GERAKAN RUMAH PINTAR PETANI TEROBOSAN GUBERNUR JAWA TENGAH MEWUJUDKAN JAWA TENGAH BIOINDUSTRY

GERAKAN RUMAH PINTAR PETANI TEROBOSAN GUBERNUR JAWA TENGAH MEWUJUDKAN JAWA TENGAH BIOINDUSTRY

Administrator, Selasa, - 08:42:50 WIB

UNGARAN - Salah satu terobosan Gubernur Jawa Tengah untuk mewujudkan Jawa Tengah menuju bioindustry yaitu Gerakan Rumah Pintar Petani dengan mengembangkan pertanian tanaman pangan yang dipadukan dengan peternakan.  Gerakan rumah pintar petani mempunyai tujuan sebagai berikut:
a) Meningkatkan pertumbuhan (PDRB)
b) Mengurangi kemiskinan dan pengangguran
c) Mempercepat pembangunan infrastruktur pedesaan
d) Mengurangi dampak kerusakan lingkungan dengan fokus meningkatan pendapatan petani melalui Kemitraan petani dengan Badan Usaha (Pembiayaan, teknologi dan kualitas Sumber Daya Manusia).

Rumah pintar petani adalah suatu tempat yang berfungsi sebagai One stop service bagi petani dalam memenuhi semua kebutuhan petani terkait kegiatan budidaya. Kebutuhan petani diantaranya permodalan, saprodi, informasi teknologi , kebutuhan akan pengairan, jasa alat mesin, prosesing dan pemasaran,  disamping itu rumah pintar juga sebagai tempat koordinasi bagi petani dan petugas. 3.    Rumah pintar petani diharapkan dapat memanfaatkan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) yang ada dengan merevitalisasi sebagai tempat (1) Retooling penyuluh pertanian (2) Penerapan sistem informasi agribisnis terpadu, serangan OPT, Panen dan Pasca panen. (3) Sebagai tempat pelatihan petani (4) TOT pendamping berupa (penyusunan modul teknis usahatani, kelembagaan, pemasaran, dll).  Rumah pintar petani disamping dapat menggunakan BPP yang ada  juga dapat memanfaatkan koperasi tani, Badan Usaha Milik Daerah, Badan layanan umum daerah yang sudah berbadan hukum dimana dilokasi tersebut sudah terjalin koordinasi antar lembaga kelompok tani/Gapoktan dengan lembaga (permodalan, P3A/GP3A, UPJA), temasuk menjembatani petani dengan sumber informasi teknologi , serta pasar. Sehingga semua kebutuhan petani serta permasalahan petani dapat dilayani dalam satu tempat.


Pola operasional Rumah pintar petani (RPP). dengan membangun Sumber Daya Manusia dan alam yang didukung dengan kebijakan keperpihakan pada petani dalam wadah korporasi yang terstruktur, terencana, terpola , terukur dan termonitor serta terkontrol guna mencapai tujuan yang ditentukan dalam RPP. Dalam operasional RPP melalui pola “BISNIS 100 Ha”. Dengan pendampingan yang intensif mulai dari kegiatan budidaya sampai dengan jaminan kepastian terbelinya produk oleh pasar sesuai minimal HPP atau bahkan diatas harga pasar. Untuk komoditas pada kegiatan dengan pola ini masih pada komoditas strategis yaitu padi jagung dan kedele. Pola bisnis 100 ha adalah merupakan “label” untuk realisasi luasan sangat ditentukan oleh kesiapan sarana dan prasarana dimasing-masing Rumah Pintar Petani (RPP).


Model gerakan RPP untuk tahap I merupakan tahap percontohan/piloting untuk komoditas padi di 6 kabupaten (Cilacap, Tegal, Karanganyar, Klaten,Sragen dan Grobogan) dan kedele di 2 kabupaten yaitu Purworejo dan Pati dengan masing-masing kabupaten 1 lokasi RPP. Sedangkan untuk tahap II adalah tahap pengembangan yang merupakan replikasi RPP di 24 kabupaten sentra, sedangkan kabupaten percontohan mereplikasi RPP dalam kabupatennya. Kegiatan ini berdurasi waktu 3 tahun yang dimulai tahun 2014 sampai dengan tahun 2016, sedangkan lounching direncanakan pada bulan Pebruari 2014 di salah satu kabupaten lokasi piloting.

Peran Pembangunan Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam mendukung Gerakan Rumah Pintar Petani, melalui  pendekatan kawasan/wilayah/cluster, pendekatan kesisteman agribisnis yaitu sub sistem hulu, budidaya (on-farm), hilir dan sub sistem penunjang serta pendekatan kelembagaan berbasis sumberdaya lokal yang berkelanjutan, dengan tetap menjaga kelestarian alam dan keseimbangan ekosistem. Pembangunan peternakan di Jawa Tengah akan dikembangkan dalam bentuk kawasan strategi yang berbasis komoditas unggulan yaitu : (1) Sapi Potong; (2) Sapi Perah; (3) Kerbau; (4) Kambing dan Domba; (5) Ayam Buras; dan (6) Itik yang tersentra di 21 kabupaten/kota. 21 Kabupaten di Jawa Tengah yang termasuk dalam Kawasan Sapi Potong ini juga mendukung Gerakan Rumah Pintar Petani.

Kawasan Sapi Potong di Jawa Tengah terdiri dari 5 Kawasan yaitu 1). JALIBALUT (Jateng Lintas Barat Laut) merupakan daerah integrasi ternak sapi-tanaman pangan, terdiri dari Kab. Brebes dan Tegal dengan wilayah sentranya di  Kab. Brebes; 2). JALIBADA (Jateng Lintas Barat Daya) merupakan daerah pengembangan intensif, terdiri dari Kab. Banjarnegara, Banyumas, Kebumen, dan Purbalingga, dengan sentranya di kab. Kebumen; 3). JALITENG (Jateng Lintas Tengah), merupakan daerah pengembangan intensif, terdiri dari Kab. Magelang, Temanggung, Wonosobo, Kab. Semarang, dengan daerah sentra di Kab. Magelang; 4). JALIGARA (Jateng Lintas Tenggara), merupakan daerah integrasi ternak sapi – tanaman pangan, terdiri dari Kab. Boyolali, Karanganyar, Klaten, Sragen, Sukoharjo, Wonogiri, dengan daerah sentra di Kab. Boyolali; 5). JALITILUT (Jateng Lintas Timur Laut), merupakan daerah integrasi ternak sapi – tanaman pangan, terdiri dari  Kab. Blora, Grobogan, Jepara, Pati, Rembang, dengan sentra di Kab. Blora.

Pengembangan ternak pola integrasi dalam suatu sistem pertanian yang ramah lingkungan merupakan suatu strategi yang sangat penting dalam mewujudkan kesejahteraan rumah tangga petani dan masyarakat pedesaan secara lestari. Dengan inovasi teknologi yang tepat, limbah tanaman dapat diubah menjadi bahan pakan sumber serat bagi ternak ruminansia (sapi). Melalui pendekatan LEISA (low external input sustainable agriculture), setiap ha lahan pertanian dapat menghasilkan pakan untuk memelihara sapi 2-3 ekor/ha. Dalam hal ini ternak sapi berperan sebagai pabrik kompos dengan bahan baku limbah tanaman, yang pada akhirnya kompos tersebut dipergunakan sebagai bahan pupuk organik bagi tanaman. Dalam upaya meningkatkan populasi ternak sapi potong dengan biaya produksi yang layak, pendekatan pola integrasi ternak dengan tanaman pangan, perkebunan dan hutan tanaman industri layak untuk dikembangkan baik secara teknis, ekonomis maupun sosial. Salah satu kunci keberhasilan dari pola ini adalah tidak ada bahan yang terbuang, serta pemanfaatan inovasi secara benar dan efisien. Pendekatan ini memposisikan sapi sebagai mesin pengolah limbah pertanian menjadi kompos (bahan organik), sedangkan pedet adalah bonus akibat dari pemeliharaan sapi secara benar. Secara mikro pola sistem integrasi tanaman-ternak berupaya untuk memperbaiki struktur, tekstur kimia dan mikrobiologi tanah, sedangkan secara makro pola ini berupaya untuk meningkatkan produktivitas pertanian, yang akhirnya dapat meningkatkan pendapatan dan kesejahteraan petani. (admin)


Baca Juga


INFORMASI

Video
Foto Galery