Jend.Gatot Soebroto, Tarubudaya-Ungaran, 50517 ( 024 ) 6921023 disnakkeswan@jatengprov.go.id

AKU MARON

Home / AKU MARON
Populasi ayam ras pedaging di Indonesia pada tahun 2022 sebesar 2.889.207.954 ekor sedangkan ayam buras/lokal populasinya hanya 308.601.685 ekor (10,68%) (Ditjen PKH Kementan, 2023). Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2022 menyebutkan, total produksi daging ayam ras nasional sebesar 3,76 juta ton sedangkan produksi daging ayam buras/lokal di Indonesia sebanyak 276.728 ton atau hanya berkontribusi setara 7,34%. Tahun 2023 terjadi kenaikan produksi daging ayam ras sebesar 4,2 juta ton, namun kontribusi daging ayam buras turun menjadi 6,56% atau setara dengan 280.725 ton (BPS, 2023). 

Dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani, ketergantungan Indonesia pada daging ayam terbilang besar. Namun demikian, kebutuhan daging ayam tersebut didominasi oleh ayam ras. Ayam ras broiler maupun layer menggunakan 3-4 strain komersial utama antara lain strain Ross, Cobb dan Hubbard pada jenis broiler/pedaging dan strain ISA, HyLine, Lohmann pada jenis layer/petelur (FAO, 2014). Tetua/Grand Parent Stock dari semua strain tersebut merupakan material genetik dari sumber daya impor. Kendati demikian, peran ayam ras (broiler dan layer) ini sangat dominan karena penguasaan input produksi dikelola sejak dari hulu sampai hilir dalam skala industri dengan sistem perkandangan yang modern. Sedangkan ayam lokal pergerakan usahanya dinilai lambat, skala produksi kecil dan kontinuitas supply ke pasar belum kontinyu. Kendala lain dalam pengembangan ayam lokal antara lain produktivitasnya rendah, pelaku pembibitan (breeder) sedikit dan skala kepemilikan kecil sebagai usaha sambilan dengan memanfaatkan limbah dapur sebagai pakan.

Taman Ternak Ayam Lokal Maron Temanggung, sebuah unit pembibitan dibawah Balai Budidaya dan Pembibitan Ternak Terpadu, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah telah mengembangkan bibit ayam lokal komersial strain ayam Maron-1 dan ayam Maron-2. Ayam lokal lainnya yang dikembangkan adalah Ayam Kedu Hitam Jengger Merah, Ayam Kedu Putih, Ayam Lingnan Maron dan Ayam Sembawa serta ayam Cemani. Upaya peningkatan produktivitas dan kemanfaatan ayam lokal dilakukan dengan berbagai cara antara lain melakukan desain breeding yang berorientasi pada improvement genetic dengan tetap melestarikan dan memanfaatkan sumber daya genetik (SDG) ayam lokal. Langkah improvement genetic yang dimaksud dalam hal ini adalah peningkatan mutu genetik pada ayam Kedu Merah, Kedu Putih, Lingnan Maron dan Sembawa dengan seleksi yang ketat dan berfokus mempertahankan keseragaman pada gen pembawa sifat pertumbuhan, produksi telur, kualitas daging dan daya tahan terhadap panas cuaca tropis.

Penerapan desain breeding tersebut dilakukan dengan teknik perkawinan pemurnian dan persilangan untuk menghasilkan strain ayam komersial yang lebih optimal yang dinamakan Ayam Kampung Unggul Maron (AKU MARON). Ayam Kampung Unggul Maron merupakan inovasi baru di bidang ayam lokal Jawa Tengah yang tersedia dalam 2 tipe yaitu tipe petelur (Maron-1) dan tipe pedaging (Maron-2) sehingga peternak memiliki preferensi dalam usaha budidayanya. Ayam Maron-1 dapat bertelur sebanyak 220 butir/tahun dengan puncak produksi mencapai 85% dan rataan produksi 60%. Telur ayam Maron-1 berwarna putih krem banyak disukai karena sesuai dengan persepsi konsumen. Ayam Maron-2 pertumbuhannya cepat dan dapat dipanen pada umur 70-90 hari dengan bobot panen 900-1.300 gram dan kualitas daging yang khas citarasa ayam kampung. Dengan manajemen pemeliharaan yang sesuai, ayam Maron-1 dan 2 memiliki prospek yang bagus sebagai usaha bisnis rumahan maupun usaha komersiil.

Inovasi AKU MARON (Ayam Kampung Unggul MARON) mulai diproduksi tahun 2021 dan menunjukkan peningkatan produksi yang signifikan. Tahun 2020, produksi bibit/Day Old Chick (DOC) adalah 14.199 ekor dan meningkat menjadi menjadi 61.053 ekor (429,98%). Ayam Maron telah rutin diproduksi sampai dengan saat ini mencapai 65.000-80.000/DOC/ekor/tahun dan diedarkan di seluruh Jawa Tengah, DIY, Subang, Bogor, Bekasi, Tangerang, Bali, Pontianak, Makasar, Lampung dan kota-kota lainnya. Sumber daya lokal ini perlu dikembangkan secara berkelanjutan guna meningkatkan daya saing peternak lokal dengan biaya produksi yang lebih efisien.
Rencana pengembangan ayam Maron lebih lanjut adalah melanjutkan kerjasama dengan para peneliti baik dari unsur BRIN maupun Perguruan Tinggi untuk terus meningkatkan mutu genetik ayam Maron melalui seleksi kuantitatif dan DNA molekuler dalam sistem pembibitan yang tertutup (close breeding) di Taman Ternak Maron. Upaya lain yang ditempuh adalah dengan melakukan kajian-kajian pakan alternatif untuk menekan biaya dalam budidaya ayam Maron di masyarakat.

(*) Rahayu Kusumaningrum, S.Pt.,M.Pt
     Pengawas Bibit Ternak Madya


Selengkapnya dapat diakses pada tautan berikut:
VIDEO AYAM MARON

📞

Logo

Jawa Tengah sebagai Provinsi Maju yang Berkelanjutan untuk Menuju Indonesia Emas 2045

“Ngopeni Nglakoni Jateng”

Kontak Kami

Jl. Jend. Gatot Soebroto, Tarubudaya – Ungaran, 50517.

disnakkeswan@jatengprov.go.id

+( 024 ) 6921023