UNGARAN, 14 Maret 2019 di Ruang Rapat Bos Indicus Kantor Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah, Tim Peneliti BBiogen Bogor (red: Dr. Tri Puji Priyatno dan Dr. Ifa Manzila) berkesempatan memaparkan hasil Penelitian "Deteksi Sapi Kembar di Jawa Tengah". Goal penelitian deteksi sapi kembar adalah menghasilkan Kit Deteksi Molekuler Sapi Kembar.


Hadir pada kesempatan tersebut yaitu Kepala Bidang, Kepala Balai, Kepala Seksi, Koordinator Taman Ternak, Staff Fungsional dan Staff Teknis lingkup Disnakkeswan dan Balai Budidaya dan Perbibitan Ternak Terpadu.

Dalam sambutan dan pengarahan Bp. Kepala Dinas (red: Lalu M Syfriadi), bahwa Jawa Tengah siap memanfaatkan hasil-hasil penelitian dari BBiogen Bogor. Tentunya kerjasama yang dibangun adalah bersifat mutualisme (red: menguntungkan kedua belah pihak). Selain itu ditandaskan bahwa hasil penelitian ini juga menuju swasembada daging sapi pada tahun 2026, dengan ikut mensukseskan program upsus siwab serta berkontribusi ikut andil dalam pengentasan kemiskinan di Jawa Tengah




Kerja sama penelitian pengembangan kit marka molekuler deteksi sapi kembar sudah berjalan selama dua tahun dari rencana tiga tahun. Tujuan dari kegiatan ini adalah 1) melakukan survei dan koleksi sampel DNA sapi kembar; 2) melakukan investigasi  variasi genetik sapi Indonesia berdasarkan marka molekuler untuk alel yang mendorong kelahiran kembar pada sapi; dan 3) melakukasi validasi kit marka berbasis PCR untuk deteksi sifat kembar pada populasi sapi lainnya.


Sapi merupakan hewan uniparous yang dalam banyak kejadian menghasilkan anakan hanya satu pada setiap kelahiran. Kejadian kelahiran kembar sangat jarang terjadi pada sapi. Karakter kelahiran kembar adalah sifat yang kompleks dengan tingkat heritabilitas (h2) rendah. Nilai h2 diperkirakan berkisar kurang dari sekitar 1% pada sapi pedaging dan 4% pada sapi perah. Artinya, meski secara genetik sifat kembar dapat diturunkan, tetapi pengaruh faktor lingkungan lebih dominan terhadap kemunculan sifat kembar. Oleh karena itu, untuk mendeteksi potensi kembar perlu pendekatan molekuler yang memiliki presisi tinggi dan dapat menghindari faktor-faktor lingkungan yang mempengaruhinya.


Untuk analisis molekuler potensi kembar pada sapi telah dilakukan survey kejadi kembar di 10 kabupaten di Jawa Tengah, yaitu Sragen, Sukoharjo, Batang, Kendal, Semarang, Klaten, Boyolali, Pati, Rembang, Jepara. Hasil survey telah merekordkan 297 kejadian kembar di Jawa Tengah dan mengkoleksi 197 sample DNA sapi kembar (anakan dan indukan), baik dari jenis sapi PO, Simental, FH maupun Limosin. Analisis variasi genetik dilakukan dengan menggunakan empat jenis marka molekuler terhadap alel yang mendorong kelahiran kembar pada kromosom 7. Dari keempat jenis marka molekuler tersebut diperoleh dua marka yang secara konsisten menunjukkan polimorfisme nukleotida tunggal (single nucleotide polymorphism/SNP) antara sapi non-kembar dan kembar, yaitu marka BTA10 dan Bvt WINA untuk jenis sapi Simental. Selanjutnya dari pola polimorfik tersebut didesain kembali marka molekuler (primer) yang secara spesifik mampu membedakan sapi non-kembar dan kembar. Sejumlah primer telah diuji coba dan masih terus dioptimasi kondisi PCR yang sesuai untuk mengamplifikasi target SNP pengendali sifat kembar.


#sks_140319/ed. ats