Ungaran, 25 Maret 2019 - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah melaksanakan “Forum Group Discussion Survailans Brucellosis” di ruang rapat Bos indicus. Hadir sebagai Narasumber antara lain:  Prof. Dr. Drh. Bambang Sumiarto, SU, M.Sc (red. Anggota Komisi Ahli Kesehatan Nasional dari FKH-UGM) dan Dr. drh. Widagdo Sri Nugroho, M.P (red.FKH-GM) dan drh. Rohmadiyanto. FGD diikuti oleh kurang lebih  40 orang peserta yg berasal dari 30 kab/kota, BBPTT Sumberrejo Kendal, Balai Veteriner Boyolali dan Semarang, Laboratorium Veteriner Semarang, Pati, Banyumas, Magelang, Boyolali, dan Surakarta



Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bertekad untuk membebaskan penyakit Brucellosis pada Sapi dan Kerbau, karena penyakit ini bersifat zoonosis (penyakit yang bisa menular dari hewan ke manusia dan sebaliknya). Hal tersebut telah tertuang dalam Road map pembebasan Brucellosis 2017 - 2022 di Jawa Tengah. Hasil sementara pada 2 (dua) tahun terakhir pada sapi potong hasil survailans negatif terhadap Brucellosis, tetapi masih ditemukam positif pada sapi perah sebanyak 25 ekor atau setara dengan 0.31% terhadap 8.000 sampel. Adapun kegiatan survailans tahun 2019 akan lebih di arahkan pada peternakan sapi perah yang ada di Kabupaten Boyolali, Banyumas, Kota Pekalongan dan Kota Semarang.

 

Dalam arahan FGD, Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah (red. Lalu M. Syafriadi) mengharapkan kerjasama seluruh stakeholder termasuk peternak, bahwa pembebasan yang ditergetkan di Jawa Tengah juga perlu didukung penuh baik Pemerintah Pusat dan Pemerintah Kab/Kota. Lebih lanjut dikatakan, bahwa kerugian akibat penyakit Brucellosis adalah berdampak pada aspek ekonomi dan juga penurunan populasi.

 

Strategi yang dilakukan untuk tujuan pembebasan antara lain: vaksinasi, survailans terstruktur secara laboratorium, survailans kasus melalui laporan keguguran dari peternak, detect disease, test and slaughter (potong bersyarat) pada reaktor brucellosis melalui kompensasi  pemerintah Provinsi. Selain itu, juga melalui strategi pembebasan kompartemen Brucellosis yang diutamakan pada peternakan yang bersifat Cluster. Tahun 2019, Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menyediakan anggaran kompensasi untuk ternak reaktor brucellosis yang dipotong bersyarat sebanyak 20 ekor dengan besaran kompensasi Rp. 8.000.000,-/ekor. Sedangkan pemerintah kabupaten Boyolali menyediakan kompensasi sebanyak 25 ekor.

 

Mengawali pembebasan kompartemen brucellosis, Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan melalui Balai Inseminasi Buatan Ungaran pada tahun 2019 telah mempersiapkan pengajuan usulan ke Pusat untuk pembebasan Kompartemen Brucellosis dengan pendampingan oleh FKH - UGM dan BBVet Wates Yogyakarta. Hal ini tentunya akan berdampak pada peningkatan daya saing produk semen beku yang berkualitas dan bebas brucellosis, dengan ruang lingkup pada sapi pejantan dan kambing Kaligesing pejantan.

#sks_25319/ed. ats