Batang, 9 April 2019 – Dilaksanakan kegiatan pertemuan sosialisasi dan advokasi  pengawasan  pemotongan ternak ruminansia besar betina produktif yang di ikuti  sebanyak 50 orang peserta, berasal dari Polda Jateng, Polres/ Babinkamtibmas, Satuan Polisi Pamong Praja  Kabupaten Batang, serta petugas penyuluh pada Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Batang, Petugas RPH, Pedagang Sapi, Takmir masjid dan Pedagang Retail daging. Adapun narasumbernya antara lain dari Polda Jawa Tengah, Polres Batang dan Dinas  Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah.

 
Dalam sambutan pengarahan Kepala Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan Kabupaten Batang ( red. Sugiatno, SH, MM) mengharapkan kerjasama dan komitmen para stake holder dalam rangka untuk pelestarian plasma nutfah ternak termasuk sapi, kerbau, kambing dan domba. Efek domino pemotongan ruminansia betina produktif setiap 1 (satu) ekor akan menghambat kelahiran selanjutnya  78 ekor atau kalau di konversi uang sebanyak Rp.780.000.000,00 (asumsi @ ekor Rp. 10.000.000,00) pungkasnya.


 
Program Pengendalian Betina Produktif merupakan salah satu program dari Upsus SIWAB yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor : 48 Tahun 2016 tentang Upaya Khusus Percepatan Peningkatan Populasi Sapi dan Kerbau Bunting. Program ini menjadi bagian penting dari upaya pemerintah melakukan percepatan peningkatan populasi sapi dan kerbau.
 
Selain pengendalian betina produktif, Upsus SIWAB meliputi berbagai kegiatan lain yaitu Optimalisasi Inseminasi Buatan (IB) dan Kawin Alam, Pemeriksaan Status Reproduksi dan Gangguan Reproduksi, Pemenuhan Semen Beku dan N2 Cair, dan Pemenuhan Hijauan Ternak dan Konsentrat. Melalui serangkaian kegiatan ini pemerintah mentargetkan tercapainya sebanyak 3 juta sapi/kerbau bunting. Adapun sasaran dari Upsus SIWAB adalah terjadinya kebuntingan dari IB dan kawin alam minimal 70%, menurunnya angka gangguan reproduksi 50%, nilai kondisi tubuh indukan akseptor minimal skor 3, dan menurunnya angka pemotongan sapi betina produktif 20%.
 
Pemotongan betina produktif menjadi permasalahan pelik dalam upaya percepatan peningkatan populasi sapi/kerbau di Indonesia. Angka pemotongan betina produktif tiap tahun cukup tinggi. Sebaran jumlah pemotongan betina produktif tidak merata. Ada beberapa daerah yang jumlahnya cukup banyak, sementara daerah yang lain jumlahnya sedikit bahkan ada yang sampai tidak ada pemotongan betina produktif.
 
Program pengendalian diprioritaskan terhadap daerah-daerah yang pemotongan betina produktifnya cukup tinggi, merupakan sentra peternakan dan memiliki Rumah Potong Hewan (RPH). Melalui program ini diharapkan dapat menekan jumlah pemotongan betina produktif secara signifikan. Keberhasilan program ini sangat bergantung pada seberapa baik koordinasi dan komitmen antara stake holders. Komitmen dari pemerintah daerah menjadi faktor yang sangat penting dalam menunjang keberhasilan program pengendalian betina produktif.
 
Peraturan-peraturan tentang Pengendalian Pemotongan Ternak Betina Produktif diantaranya:
1. Undang-undang No. 18 Tahun 2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan yang direvisi menjadi UU No. 41 Tahun 2014; pasal 18 ayat 4 : Setiap orang dilarang menyembelih ternak ruminansia kecil betina produktif atau Ternak Ruminansia besar betina produktif;
2. Permentan No. 35/Permentan/OT.140/7/2011 tentang Pengendalian Pemotongan Ternak Ruminansia Betina Produktif;
3. Perda Provinsi Jawa Tengah No.08 Tahun 2014 tentang Penyelenggaraan Peternakan dan Kesehatan Hewan. , Ternak ruminansia besar (Sapi dan Kerbau) betina produktif dilarang dipotong kecuali untuk keperluan penelian, pengendalian dan penanggulangan penyakit hewan, pemuliaan, dan/ atau upacara keagamaan dan/atau upacara adat setelah endapat rekomendasi dari petugas yang berwenang
 


Hasil pertemuan tersebut diharapkan dapat mengefektifkan pengawasan dan pencegahan pemotongan ternak ruminansia besar (sapi/kerbau) betina produktif melalui penyamaan persepsi dan keseragaman prosedur operasional baku/ SOP dalam Tim Terpadu Pengawasan dan Pencegahan Pemotongan Ternak Betina Produktif di tingkat lapang baik di HULU ( peternak, kelompok tani ternak, pos perlintasan ternak/ceck point,  pasar hewan) maupun di HILIR ( RPH : Rumah pemotongan hewan ).


#sks_090419/ed. ats