Semarang, Hotel Pesona 21 Maret 2019 - Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah melalui Bidang Veteriner melaksanakan kegiaran Sosialisasi & Advokasi Pengawasan Pemotongan Betina Produktif. Hadir pada pertemuan sebanyak 90 peserta yang berasal dari pejabat dinas Kabupaten/Kota yg membidangi fungsi kesehatan mayarakat Veteriner dan Kesrawan, petugas RPH-R dan Polres/Polresta se Jawa Tengah. Menghadirkan narasumber dari Ditkesmavet Ditjen PKH, Polda Jateng, Polres Rembang dan Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Rembang.

Provinsi Jawa Tengah memiliki potensi yang besar pada sektor peternakan dan memberi kontribusi yang besar pada kebutuhan pangan nasional. Menurut Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah bahwa potensi tersebut dapat dilihat dari populasi ternak di Jawa Tengah : 1). Sapi Potong sebanyak 1.751.799 ekor (populasi terbanyak no 2 se-Indonesia),2). Sapi perah sebanyak 138.890 ekor, 3). Kerbau sebanyak 62.054 ekor, 4). Kuda sebanyak 10.643 ekor, 5). Babi sebanyak 121.259 ekor, 6). Kambing sebanyak 3.937.013 ekor (populasi terbanyak no 1 se-Indonesia), 7). Domba sebanyak 2.389.721 ekor (populasi terbanyak no 2 se-Indonesia). Dengan potensi dan kontribusi Jawa Tengah yang sangat besar terhadap pemenuhan kebutuhan Pangan Asal Hewan Nasional, sudah selayaknya kita harus mempertahankan produksi ternak terutama ternak sapi dan Kerbau


Salah satu faktor penting dalam peningkatan populasi ternak sapi dan kerbau dalam mendukung Program Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI yaitu Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus SIWAB) 2018 dengan target sapi bunting sebesar 2,1 juta ekor dari akseptor sebanyak 3 juta ekor. Kegiatan untuk mendukung Upsus Siwab adalah Kegiatan Pengendalian Pemotongan Ternak Ruminansia Betina Produktif yang bertujuan untuk mencegah pemotongan betina produktif dan bunting di RPH sehingga dapat menambah aseptor kawin suntik/IB dan menyelamatkan pedet. Sebagaimana kita ketahui bersama bahwa pemotongan betina produktif masih cukup tinggi. Dari data ISIKHNAS, dalam empat tahun terakhir pemotongan betina produktif di Jawa Tengah rata-rata diatas 3.500 ekor setiap tahunnya. 

Tingginya pemotongan betina produktif sangat berpengaruh terhadap keberhasilan program Upsus SIWAB, dimana dapat mengurangi akseptor dan betina bunting. Disamping itu juga menyebabkan kerugian ekonomi sangat besar bagi Jawa Tengah, yang berasal dari efek domino kesempatan kelahiran pedet sebanyak 21.000 ekor atau setara dengan 126 milyar sebagai akibat dari pemotongan betina produktif sebanyak 3500 ekor/ tahun (bila harga 1 ekor pedet baru lahir Rp. 6.000.000/ ekor). Mengingat pentingnya upaya pengendalian dan pencegahan pemotongan betina produktif di RPH, maka Direktorat Jendral Peternakan dan Kesehatan Hewan sejak tanggal 9 Mei 2017 telah menandatangani Nota Perjanjian Kerjasama (MoU) dengan Badan Pemelihara Keamanan (Baharkam) Kepolisian Negara RI yang tertuang dalam Nota Perjanjian Kerjasama (MoU) selama 3 tahun sampai dengan tahun 2019. 

Di Jawa Tengah pemotongan betina produktif banyak dilakukan di RPH/ TPH tersebar di daerah pantura mulai dari Timur ( Rembang ) hingga pantura barat ( Brebes), Angka pemotongan betina produktif pada tahun 2017 mencapai sekitar 4.781 ekor, dan pada tahun 2018 turun menjadi 2,583 ekor. Sebaran pemotongan betina produktif terjadi di Rembang, Grobogan, Kendal, Batang, Kota Pekalongan, Kab. Pekalongan, Kab. Tegal , Brebes, Sragen dan Wonogiri. 


Dalam upaya pengendalian betina produktif pada tahun 2018, dilakukan melalui: (1) sosialisasi pengendalian betina produktif baik di pusat, propinsi dan kabupaten/kota; (2) pengawasan di peternakan, pasar hewan, dan checkpoint dan melibatkan bhabinkatibmas dimasing-masing wilayah; dan (3) penindakan pemotongan betina produktif di RPH. 
Untuk kegiatan pengawasan dilaksanakan di peternakan, pasar hewan dan checkpoint dan di RPH. pelaksanaannya dilakukan bersama Tim Terpadu yang terdiri dari unsur Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan di provinsi atau kab/kota dan unsur kepolisian serta instansi terkait lainnya.


Kegiatan penindakan pemotongan betina produktif dilakukan oleh PPNS dan kepolisian, bagi pemilik ternak dan jagal yang dengan sengaja melakukan pemotongan betina produktif akan dilakukan penindakan melalui tahapan: (1) teguran lisan; (2) peringatan tertulis; (3) penghentian sementara izin pemotongan; (4) pencabutan izin usaha pemotongan; (5) pengenaan denda; dan (6) sanksi pidana 

Upaya-upaya yang telah dilakukan telah berhasil menurunkan jumlah pemotongan betina produktif di Jawa Tengah, namun masih dijumpai pemotongan betina produktif di RPH terutama di daerah Pantura sebelah barat, selain itu pemotongan ternak betina juga dijumpai pada saat hari raya Qurban. Pada saat hari raya Qurban tahun 2018 angka pemotongan ternak betina sebanyak 3.625 ekor, kondisi ini terjadi dikarenakan disparitas harga ternak jantan dan betina 

Pada kesempatan ini saya terus mendorong agar bapak dan ibu di daerah dapat terus berkoordinasi dengan pihak Kepolisian untuk memaksimalkan upaya pengawasan dalam rangka menekan laju pemotongan betina produktif. Saya juga mengucapkan terima kasih atas peran aktif yang telah Bapak dan Ibu lakukan dalam mendukung keberhasilan program UPSUS SIWAB melalui pengendalian pemotongan betina produktif. 

Selamat mengikuti acara Sosialisasi ini, Semoga melalui acara ini kita mendapatkan strategi yang efektif dan efisien dalam memaksimalkan upaya pencegahan pemotongan betina produktif dan penerapan kesejateraan hewan, pungkas Kepala Dinas pada pengarahan dan sambutan pertemuan.

#sks_21319/ed. ats