SLAWI, 10 April 2019 – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan bekerjasama dengan Badan Pemelihara Keamanan (Baharkam) Polri melalui Polda Jateng mampu menekan angka pemotongan betina produktif hingga mencapai 2.607  ekor pada tahun 2018. Hal tersebut disampaikan oleh Kepala Dinas (red. Lalu M. Syafriadi) dalam sambutan tertulis yang di bacakan oleh Kepala Bidang Veteriner Dinas Peternakan dan Kehatan Hewan. Pertemuan Sosialisasi dan Advokasi Pengawasan Pemotongan Betina Produktif yang dilaksanakan Rabu tanggal 10 April 2019 di Wisata Tani Ternak " RODJO TATER" Slawi Kabupaten Tegal.

Peserta pertemuan sosialisasi dan advokasi pengendalian pemotongan betina produktif  diikuti 50 peserta antara lain: para pelaku usaha yang berasal dari Jagal, pedagang sapi, pedagang daging sapi dan petugas teknis dinas seperti petugas RPH, inseminator, serta jajaran kepolisian Polres Kabupaten Tegal, Polsek dan Bhabinkamtibmas.
 
Menurut Lalu M. Syafriadi (red. Kadis Peternakan dan Kesehatan Hewan Jawa Tengah), jumlah penurunan pemotongan ruminansia betina produktif tahun 2018 tersebut turun 54,50 % jika dibandingkan dengan pemotongan tahun 2017, telah memenuhi target penurunan angka Nasional. Ia ungkapkan, capaian ini cukup menggembirakan karena angka penurunannya telah jauh melampaui target yaitu penurunan sebesar 20% dari pemotongan betina produktif tahun 2017. “Potensi ekonomi yang berhasil diselamatkan dari kegiatan pencegahan pemotongan betina produktif ini tidak kurang dari Rp. 132 milyar”, urainya.
 
Pada kesempatan lain Direktur Kesmavet Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian RI (red. Drh.Syamsul Ma’arif, M.Si) menyampaikan, tren penurunan angka pemotongan betina produktif ini mulai terlihat pada semester II pada tahun 2017, setelah dilakukan sosialisasi, pengawasaan dan pembinaan yang dilakukan oleh Tim terpadu. “Tim Terpadu ini terdiri dari personil dari pusat (Ditjen PKH Kementan), Dinas yang menangani fungsi peternakan dan kesehatan hewan di daerah (provinsi dan kabupaten/kota) kerjasama dengan Badan Pemelihara Keamanan (Baharkam) Kepolisian RI”, ungkapnya. Syamsul menyebutkan bahwa kerjasama dengan Baharkam Polri tersebut diilakukan karena pengendalian pemotongan betina produktif sangat kental dengan aspek penegakan hukum. “Kegiatan sosialisasi, pembinaan dan pengawasan yang dilakukan dengan pihak Kepolisian cukup efektif dalam menekan laju pemotongan sapi/kerbau betina produktif”, terangnya.
 
Tahun 2019 kegiatan pengendalian betina produktif di Jawa Tengah difokuskan pada 4 Kabupate/Kota yang  masih ditemukan pemotongan betina produktif masih tinggi yaitu Kab Batang, Kab. Pekalongan, Kota Tegal dan Kab.Wonogiri.


Sementara, pada sambutan Kadis Kelautan Perikanan dan Peternakan  Kab.Tegal (red. Ir. Totok Subandriyo ,  MM) menyebutkan jika kegiatan pengendalian pemotongan betina produktif  di Tegal perlu kesungguhan  dan kerjasama antar stake holder  di Kabupaten Tegal, karena tanpa ada kerjasama mustahil akan bisa berhasil. Keberhasilan mengendalikan pemotongan betina produktif juga akan membantu menambah  peningkatan populasi sapi/kerbau di Kabupaten Tegal. Sebagaimana diketahui, Pemerintah saat ini terus melakukan upaya dalam pemenuhan kebutuhan protein hewani melalui program percepatan peningkatan populasi sapi dan kerbau nasional melalui program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab). Menurutnya, tingginya pemotongan betina produktif sangat berpengaruh terhadap keberhasilan program Upsus SIWAB, dimana dapat mengurangi akseptor dan betina bunting. “Sapi betina produktif ini adalah mesin-mesin produksi untuk mempercepat peningkatan populasi sapi di kab. Tegal khususnya dan di Jawa Tengah umumnya, sehingga harus kita cegah pemotongannya”, tutup Totok.
#sks_100419/ed. ats