SURAKARTA, 22 April 2019 – Bertempat di “The Sunan Hotel” telah dilaksanakan RAKORTEKNIS 2019 Peternakan dan Kesehatan Hewan sebagai sarana komunikasi dan koordinasi yang strategis untuk akselerasi pembangunan peternakan dan kesehatan hewan di Jawa Tengah. Rakorteknis diikuti oleh Dinas Kab/Kota yang membidangi fungsi Peternakan dan Kesehatan Hewan sebanyak kurang lebih 150 orang.



Hadir sebagai Narasumber berasal dari Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan (red. Direktur PPHPNak) menyampaikan materi arah kebijakan pembagunan peternakan dan kesehatan hewan nasional tahun 2019, Ketua komisi B DPRD Provinsi Jawa Tengah (red. M. Chamim) dengan materi pokok-pokok pikiran pembangunan peternakan di jawa tengah, dan Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Kesejahteraan Sosial (BP2KS) Kementerian Sosial RI dengan materi hasil kajian dan strategis penanggulangan kemiskinan.

Dalam sambutan Gubernur yang dibacakan Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah, bahwa kesehatan hewan merupakan salah satu kunci keberhasilan dalam pembangunan peternakan. Pada program penanggulangan kemiskinan (Gulkin), sub sektor peternakan mengambil peran penting melalui penyediaan protein hewani pada keluarga miskin dengan pengembangan peternakan unggas lokal di masyarakat dengan tagline Paguyuban Peternak Membangun Keluarga Maju (Banter Melaju). Hal tersebut dilaksanakan sebagai upaya pengentasan kemiskinan di berbagai wilayah, mengingat komoditas ternak menjadi “rojo koyo” dan sudah menyatu dengan kehidupan masyarakat. Sehingga sub-sektor ini menjadi alternatif solusi Gulkin di Jawa Tengah. 

Oleh karena itu, upaya promotif, pencegahan (preventif) melalui vaksinasi, kuratif, dan rehabilitatif harus ditingkatkan untuk menghindari penyebaran penyakit ternak. Pemanfaatan laboratorium kesehatan hewan dan kesehatan masyarakat veteriner milik provinsi yang telah ter-akreditasi, lebih Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH), guna menjamin ketentraman batin masyarakat. 

Kontribusi Provinsi Jawa Tengah dalam penyerapan tenaga kerja sektor peternakan sebanyak 1.305.360 orang, kontribusi sub sektor peternakan terhadap PDRB Provinsi Jawa Tengah berdasarkan harga berlaku 2018, yaitu 2,5%, dengan laju pertumbuhan PDRB adalah 9,84%. Nilai Tukar Petani (NTP) subsektor peternakan tahun 2018 mencapai 100,39%. 
Dalam Program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (UPSUS SIWAB) Tahun 2017, Jateng yang menargetkan jumlah akseptor sebanyak 514.984 ekor, terealisasi sebesar 658.179 ekor (127,81 %), sekaligus menempati ranking 1 (satu) nasional. Pada tahun 2018 realisasi akseptor mencapai 630.422 ekor (105,07%) dari target 600.000 ekor. 

Demikian halnya pada Susenas BPS 2013 – 2017, menyatakan bahwa konsumsi protein hewani di Provinsi Jawa Tengah mencapai 8,60 gram/kapita/hari, dari target nasional sebesar 6,00 gram/kapita/hari. Artinya, tingkat konsumsi protein hewani di provinsi ini telah melebihi target nasional, sebesar 2,60 gram/kapita/hari. Peningkatan produksi daging pun dilakukan lewat peningkatan volume pemotongan di RPH untuk menekan pengiriman ternak ke luar provinsi, dan penurunan pemotongan betina produktif untuk mencegah pengurangan ternak, sesuai dengan amanat UU 18/2009 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. 

Potensi pembangunan peternakan di Jawa Tengah, berbasis pemilik ternak 2018 cukup menggembirakan, mencapai 7.216.479 orang, jumlah kelompok tani ternak mencapai 4.166 Kelompok, populasi ternak 3.779.002,23 Satuan Ternak (ST). Sedangkan potensi pakan ternak sebesar 6.645.712 ST, atau masih cukup tersedia pakan ternak sebanyak 2.866.710 ST, sehingga Jawa Tengah masih dapat dikembangkan ternak ruminansia besar setara 2,1 juta ekor. Tentu hal itu dapat dicapai dengan optimalisasi lahan marjinal, pemanfaatan limbah pertanian maupun industri untuk peningkatan produksi dan populasi ternak. 

Upaya terus dilakukan untuk mendorong peningkatan produksi dan produktivitas peternakan di Jawa Tengah berbasis komoditas unggulan lokal daerah. Yaitu fokus pada komoditas unggulan daerah, khususnya Sumber Daya Genetik Hewan (SDGH), seperti rumpun Sapi Peranakan Ongole (PO), rumpun Sapi Jabres (Jawa-Brebes), rumpun Kambing Kacang, rumpun kambing Peranakan Etawah (PE), galur kambing Kaligesing, rumpun Domba Wonosobo (Dombos), rumpun Domba Batur (Dombat), rumpun Itik Tegal, rumpun Itik Magelang, rumpun Ayam Kedu (Cemani). Pengembangan balai perbibitan di Jawa Tengah juga diarahkan untuk memenuhi kebutuhan bibit berkualitas dan kontinyu untuk disebarkan kepada peternak di Jawa Tengah, sehingga menambah populasi sekaligus produksi ternak di Jateng. 

Tidak kalah penting, kita juga mewaspadai penyakit hewan menular strategis, yaitu Brucellosis, Hog Cholera Anthrax, serta Avian Influenza (Flu Burung) yang berpotensi menular ke manusia (zoonosis). Dinas Teknis harus bertindak proaktif, antisipatif, dan responsif untuk mengantisipasi kejadian tersebut. Jawa Tengah berupaya tetap mempertahankan status bebas penyakit Rabies, serta berupaya memperoleh status bebas penyakit Brucellosis dan Avian Influenza. 

Maka, saya berharap pada rakortek ini menjadi satu langkah membangun komunikasi dan koordinasi sistem pengawasan ternak secara berjenjang dari kabupaten/kota, provinsi hingga nasional yang intensif, untuk mendukung pencapaian tersebut, pungkas Gubernur diakhir sambutannya.
Materi dapat diunduh:
https://drive.google.com/drive/folders/18Mo182qMmJVw6aJ-lCWrYEZ9lFnj-op8?usp=sharing
#cip&sks_220419/ed.ats