Peternak unggas akhir-akhir ini mengeluhkan harga pakan yang melambung tinggi. Kenaikan harga pakan unggas terjadi disebabkan karena harga jagung meningkat. Selain itu penggunaan bahan pakan jagung untuk pakan unggas mencapai 50% dari formulasi pakan unggas. Harga jagung meningkat empat bulan terakhir ini, sesuai dengan data laporan pembelian produsen pakan se Jawa Tengah (SIJAGUNG, Ditjen PKH) pada bulan Februari 2021 pembelian jagung Rp.3.932,- ; bulan Maret 2021 Rp.4.566,- ; bulan April 2021 Rp.5.248,-  dan bulan Mei 2021 Rp. 5.548,- dengan rata-rata kadar air  (KA) 17,20%. Kondisi ini menyebabkan kenaikan pakan yang terjadi terus menerus sehingga memberatkan para peternak unggas dan hal ini dapat mengancam keberlangsungan usaha ternak unggas.

Untuk menstabilkan harga jagung Pemerintah  Provinsi Jawa Tengah melalui Dinas Ketahanan Pangan, Badan Ketahanan Pangan Kementerian Pertanian dan Koperasi Pinsar Petelur Nasional melakukan gerakan stabilisasi pasokan dan harga jagung. Gerakan stabilisasi pasokan harga jagung sudah dilaksanakan 2 tahap yakni tahap pertama dilaksanakan tanggal 10 mei 2021 di Koperasi Pinsar Petelur Nasional Jalan Brigjen Katamso No. 184, Kel Mojosongo, Kecamatan Jebres, Kota Surakarta. Untuk tahap kedua dilaksanakan tanggal 31 Mei 2021 di Koperasi Pinsar Petelur Nasional Ds. Karangsalam, Karanggondang,Penggung, Kec. Boyolali Kab. Boyolali. Gerakan stabilisasi pasokan dan harga jagung berupa penyaluran jagung pipil kering bersubsidi yang bisa dibeli oleh peternak anggota Koperasi Pinsar Petelur Nasional di wilayah Surakarta dan Boyolali dengan harga Rp. 5.100,- per kilogram. Harga ini lebih rendah dari harga di pasar saat ini dengan harga berkisar Rp. 6.000,-. Untuk jumlah jagung pipil yang disalurkan di peternak wilayah Surakarta sejumlah 10 ton, sedangkan untuk peternak di wilayah Boyolali 8 ton. Kegiatan ini rencananya akan dilaksanakan secara berkelanjutan di wilayah-wilayah sentra peternakan unggas di Provinsi Jawa Tengah. Diharapkan kondisi tidak stabilnya harga jagung tidak terulang setiap tahunnya, hal ini mungkin bisa dicegah dengan membentuk sistem logistik daerah. Sistem logistik daerah bertujuan untuk mengangkat nilai tukar petani jagung dan peternak unggas. Sehingga petani jagung dan peternak unggas menjadi sejahtera.

(Disusun oleh Ni Putu Widiari IA, S.Pt, M.Si)