Brucellosis merupakan penyakit hewan menular yang disebabkan oleh bakteri genus Brucella dan bersifat zoonosis. Di Indonesia, brucellosis sering dikenal sebagai penyakit keluron menular. Hewan yang terinfeksi kuman Brucella dapat mengalami gangguan reproduksi seperti abortus, retensi plasenta, orchitis dan epididimitis serta dapat mengekskresikan kuman ke dalam uterus dan susu. Penularan penyakit ke manusia dapat terjadi melalui
konsumsi susu dan produk susu yang tidak dipasteurisasi atau melalui membrana mukosa dan kulit yang luka. Gejala klinis Brucellosis pada manusia yaitu demam intermiten, sakit kepala, lemah, arthralgia, myalgia dan
turunnya berat badan. Komplikasi penyakit dapat terjadi berupa arthritis, endokarditis, hepatitis granulona, meningitis, orchitis dan osteomyelitis serta dilaporkan dapat pula mengakibatkan abortus pada wanita hamil.

Brucellosis merupakan salah satu penyakit hewan menular strategis (PHMS) yang ada di Indonesia, hal tersebut tercantum dalam Keputusan Menteri Pertanian Republik Indonesia No. 4026/Kpts/OT.140.2013 tanggal 1 April 2013 tentang Penetapan Jenis Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS). Brucellosis mempunyai dampak ekonomi yang sangat besar karena merupakan salah satu faktor penghambat perkembangan populasi. Walaupun mortalitas kecil namun kerugian ekonomi yang disebabkan cukup besar karena adanya keguguran, kematian pedet, sterilitas, infertilitas dan penurunan produksi susu serta turunnya akses pasar baik skala nasional maupun internasional karena penyakit yang bersifat zoonosis. Kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh Brucellosis pada ternak ruminansia besar di Indonesia diperkirakan mencapai Rp. 3,6 trilyun per tahun atau bernilai 1,8% dari nilai total aset ternak di Indonesia (Chaerul B. dan Bambang S., 2017).

Masalah Brucellosis ini menjadi sangat penting mengingat Provinsi Jawa Tengah yang terdiri atas 35 kabupaten/kota merupakan salah satu lumbung ternak dan sentra budidaya sapi di Indonesia. Populasi sapi potong di Jawa Tengah tahun 2019 sebanyak 1.786.933 ekor dan sapi perah sebanyak 140.530 ekor (sumber: data statistik Disnakkeswan Provinsi Jawa Tengah). Kasus Brucellosis di Jawa Tengah masih ditemukan setiap tahun berdasarkan hasil pemeriksaan rapid RBT (Rose Bengal Test) dan CFT (Complement Fixation Test). Dari hasil pelaksanaan kegiatan pengamatan penyakit melalui survailans, pencegahan, pengendalian dan penanggulangan Brucellosis pada tahun 2019 diketahui bahwa Selengkapnya silahkan KLIK DISINI