Penyakit Brucellosis merupakan penyakit ternak yang menjadi problem nasional baik untuk kesehatan masyarakat maupun persoalan ekonomi peternak. Brucellosis adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh bakteri genus Brucella dan dikategorikan oleh Office International Des Epizooties (OIE) sebagai penyakit zoonosis (Alton et al., 1988). Di Indonesia, Brucellosis sering dikenal sebagai penyakit keluron menular. Brucellosis merupakan salah satu penyakit hewan menular strategis (PHMS) yang ditetapkan oleh pemerintah melalui SK Menteri Pertanian Republik Indonesia No. 4026/Kpts/OT.140.2013 tanggal 1 April 2013. Brucellosis mempunyai dampak ekonomi yang sangat besar karena merupakan salah satu faktor penghambat perkembangan populasi. Walaupun mortalitas kecil namun kerugian ekonomi yang disebabkan cukup besar karena adanya keguguran, kematian pedet, sterilitas, infertilitas dan penurunan produksi susu serta turunnya akses pasar baik skala nasional maupun internasional karena penyakit yang bersifat zoonosis. Kerugian ekonomi yang diakibatkan oleh Brucellosis pada ternak ruminansia besar di Indonesia diperkirakan mencapai Rp.3,6 trilyun per tahun atau bernilai 1,8% dari nilai total aset ternak di Indonesia (Chaerul B. dan Bambang S., 2017).

Provinsi Jawa Tengah merupakan salah satu lumbung ternak dan sentra budidaya sapi di Indonesia dengan populasi sapi potong tahun 2020 sebanyak 1.835.717 ekor dan sapi perah sebanyak 141.395 ekor (sumber: data statistik Disnakkeswan Provinsi Jawa Tengah), sehingga masalah Brucellosis ini menjadi sangat penting mengingat kasus Brucellosis di Jawa Tengah masih ditemukan setiap tahun berdasarkan hasil pemeriksaan rapid RBT (Rose Bengal Test) dan CFT (Complement Fixation Test). 

Sesuai dengan Grand Design Pembebasan Brucellosis pada Sapi di Jawa Tengah, salah satu komponen utama dalam program pembebasan Brucellosis adalah surveilans penyakit. Kegiatan surveilans Brucellosis dilaksanakan dengan tujuan untuk menemukan reaktor Brucellosis dan mengetahui prevalensi penyakit.


BACA ARTIKEL LENGKAPNYA DI SINI



Ditulis oleh:

Drh. Tri Wahyu Retnaningsih

Medik Veteriner Muda 

Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Jawa Tengah